Belajar

Jumat, 01 Juni 2012

Ucapan Nikah


inde.jpgIstri yang kau nikahi  tidaklah semulia Khodijah r.a, tidaklah setaqwa Aisyah r.a, pun tidaklah setabah Fatimah r.a,
istrimu hanyalah wanita yang akhir zaman yang punya cita-cita menjadi isrti yang sholehah.
Pernikahan mengajarkan kita kewajiban bersama. Istri menjadi tanah kamu penaungnya, istri ladang tanaman kamu pemagarnya, istri bagaikan anak kecil kamu tempat bermanjanya.
Seandainya istri tulang yang bengkok berhati-hatilah kamu meluruskanya.
&
Suami yang meningkahi kamu, tidaklah semulia Muhammad SAW, tidaklah setaqwa Ibrohim AS. pun tidaklah setabah Ayyub AS.
images.jpgSuamimu hanyalah pria akhir zaman yang punya cita-cita membangun keturunan yang sholeh.
Pernikahan mengajarkan kita kewajiban bersama. Suami adalah nahkoda kamu navigatornya, suami menjadi rumah kamu penghuninya, suami sebagai guru kamu muridnya, seandainya suami lupa bersabarlah kamu dalam memperingatinya.
Selamat menempuh hidup baru………..!



M. Abdul Kohar
      &
Early Susanti

 
 

MAKALAH
KARAKTER RASULULLAH SEBAGAI  DA’I

DISUSUN OLEH:
M. Abdul Kohar (26.10.1.2.029)

FAKULTAS USHULUDIN DAN DAKWAH
BIMBINGAN KONSELING ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
SURAKARTA
2012





BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Tiada daya dan kekuatan selain dari-Nya. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada RasulullahMuhammadbeserta keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikutinya hingga akhir zaman.
Banyak orang memeluk islam karena terpesona dengan akhlak seorang muslim. Sebut saja suraqah, pemuda quraisy yang begitu bersemangat membunuh nabi. Ia masuk islam, setelah dimaafkan nabi, padahal waktu itu nabi berada diatas angin untuk ganti membunuhnya.
Demikian pula dengan penduduk himsha yang semula kristen berbondong-bondong masuk islam, setelah mengetahui kejujuran kaum muslimin. Penguasa muslim saat itu, mengembalikan pajak yang ditarik, karena mereka akan meninggalkan kota tersebut, sehingga tak lagi mampumemberikan perlindugan.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimanakah Karakter Rasulullah sebagai seorang da’i?




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Karakter atau Akhlak Rasul Sebagai Seorang Da’i
1.      Muraqabah
          Muraqabah adalah keadaan seorang hamba yang senantiasa mengetahui dan meyakini pengawasan Allah terhadap hadir dan batinnya. Uapaya untuk melanggengkan pengetahuan dan keyakinan inilah yang disebut muraqabah. Muraqabah adalah buah pengetahuannya bahwa Allah mengawasinya, melihatnya dan mendengarnya, dan mendengar semua ucapannya.
Muhammad mengajarkan cara bermuraqabah, beliau bersabda:
Artinya:
Bertaqwalah kepada Allah bagaimanapun keadaanmu! Ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik (yang dapat)menghapusnya! Bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang terpuji!(H.R Ahmad dan At-Tirmidzi)
Beliau juga bersabda:
Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu! Jagalah Allah! Niscaya kamu dapati Dia dihadapanmu.( H.R Imam Ahamd dan Tirmidzi)
          Disini Nabi mengajarakan kepada kita bahwa seorang hamba mestilah bermuraqabah kepada Allah dalam diam, saat bergerak, ketika berbicara, dan kala bertindak, kapanpun dan dimanapun.
          Sebab jamak adanya bahwa seorang hamba terkadang berbuat salah, terjerumus dalam jurang kemaksiatan. Karena itulah Rasul melanjutkan pelajaran dengan sabda beliau, “ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik (yang dapat) menghapusnya!” ini yang berkaitan dengan hak Allah. Sedang yang berkaitan dengan hak sesama, beliau telah bersabda, “Bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang terpuji!” pelajaran singkat ini memuat hak Allah dan hak sesama manusia.
        Sungguh muraqabah kepada Allah dapat menghidupkan hati yang mati dan membangunkan jiwa yang terlelap. Ia juga menjadikan seseorang memiliki sesuatu yang unik, jarang sekali dijumpai pada orang lain yang tidak bermuraqabah. seorang yang bermuraqabah hanya melangkahkan dan menapakkan kakinya setslah terlebih dahulu bertanya, apakah amalan yang hendak dikerjakan diridhoi oleh Allah atau tidak? kita akan mendapati semua diam dan geraknya hanya karena Allah.
Apa bila kita bermuraqabah kepada Allah, dapat dipastikan seluruh umat akan hidup dengan aman dari segala bentuk kejahatan.
Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. (Al-A’raf[7]:96)

2.      Amanah
      Rasul kita Muhammad sebelum diangkat sebagai rassul, beliau telah dikenal sebagai seorang yang shadiq (jujur) dan amin (memegang amanah, terpercaya) di tengah-tengah kaumnya. Sebenarnya pada diri rasul terdapat semua sifat-sifat yang baik. Karena dua sifat jujur dan amanah adalah sifat yang paling agung, maka beliau digelari dengan ash-shadiq al-amin.
       Nabi takpernah lelah menganjurkan umat untuk selalu beramanah. Beliau berjanji membawa naik ruh mereka ke surga Ar-Rahman kelak. Beliau bersabda: “jaminkan untukku enam perkala dari kalian, niscaya aku jaminkan surga untuk kalian , -diantara keenam perkara itu adalah-hendaklah kamu menunaikan amanah jika kamu mendapatkannya.”(H.R Imam Ahman dan Al- Hakim)
       Nabi tetap memerintahkan kita untuk menunaikan amanahmeskipun orang-orang yang ada di sekitar kita tidak ada yang menunaikan amanah lagi. Beliau bersabda, “Tunaikan amanah kepada orang yang memberi amanah dan jangan kamu khianati orang yang mengkhianatimu!” (H.R Abu Dawud dan Tirmidzi)
       Beliau juga memperingatkan kita jangan sampai menyia-nyiakan amanah. Beliau menjadikan pengkianatan amanah sebagai salah satu tanda munafik. Beliau sebagai mana diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari dan Imam Muslim bersabda:
tanda seorang munafik itu ada tiga: jika berbicara dia berbohong, jika ia berjanji mengngingkari, dan jika dipercaya dia berkianat.
Beliau juga bersabda:
Tidak ada iman bagi yang tidak beramanah, dan tidak beragama bagi  yang tidak (menepati) janjinya. (H.R Imam Ahmad dan Ibnu Hibban)
3.      Tawadhu
        Nabi muhammad telah menganjurkan umatnya untuk tawadhu demi tersebarnya spirit cinta, saling kasih, dan rasa sayang diantara umat islam. Beliau bersabda:
Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku, hendaklah kalian bertawadhu, sehingga seseorang tidak merasa bangga atas orng lain dan tidak berbuat lalim kepada orang lain” (H.R Muslim)
       Seruan untuk bertawadhu. Seruan yang datang dari atas tujuh langit agar kita membawa hati dan ruh kita untuk hidup berakhlak yang agung.
Adapun hamba-hamba Ar-Rahman (yang maha pengasih) itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang hina), mereka mengucapkan ‘salam!’ (Al-Furqan:63)
        Tawadhu adalah akhlak mulia yang dimiliki oleh seseorang yang beriman. Dengan akhlak ini seorang yang beriman akan memperoleh cinta Rabb alam semesta. Tawadhu akan mendekatkan kita kepada Allah sekaligus kepada sesama manusia.
4.      Malu
       Malu adalah salah satu akhlak teragung yang seyogianya setiap muslim menghiasi diri dengannya. Rasulullah bersabda,
“sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak islam adalah malu.”( H.R Ibnu Majah)
          Rasulullah menjelaskan bahwa kebanyakan yang menjadi keistimewaan pemeluk berbagai agama bukanlah akhlak malu. Sedangkan kebanyakan pemeluk agama kita  keistimewaannya pada akhlak malu. Karena malu adalah penyempurna akhlak, dan Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak. Karena islam agama yang paling mulia, maka Allah memberi islam akhlak yang paling tinggi dan paling mulia, yaitu malu. (Al-Haya’ khuluq Al-Islam, Syaikh Muhammad Ismail, hal. 25)
      Imam Al-Bukhari dan imam muslim meriwayatkan bahwa abu Sa’id Al-Khudri mengatakan, “Rasulullah lebih pemalu dari pada gadis dalam pingitan. Jika beliau melihat sesuatu yang tidak beliau sukai, kami dapat mengetahuinya dari rona wajah beliau.”
          Ada banyak hadits Nabi yang berisi anjuran bagi umat agar menghiasi diri dengan akhlak malu.
          Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:
“Semua malu itu baik”.
Rasulullah juga bersabda:
Tidaklah (perkataan dan perbuatan) keji itu menyertai sesuatu sama sekali kecuali membuatnya buruk, dan tidaklah malu itu menyertai sesuatu sama sekali kecuali membuatnya indah.( H.R Imam Ahan Amad dan At-Tirmidzi)
Rasulullah juga bersabda:
“Malu itu termasuk iman; iman tempatnya di surga. (perkataan atau perbuatan) keji itu termasuk kebengisan; kebengisan tempatnya di neraka.” ( H.R At-Tirmidzi dan Al-Hakim)
5.      Kedermawanan Dan Pengorbanan
       Sifat dermawan yang ada pada beliau telah sampai pada taraf yang paling sempurna diantara manusia, Allah telah menjadikan rasa dermawan Nabi berlipat ganda di waktu dan saat tertentu. Ibnu Abbas berkata: Rassulullah adalah orang yang paling dermawan dan kedermawanannya bertambah pada bulan ramadhan ketika jibril mendatanginya pada setiap malam-malam ramadhan dan  mengajarkannya Al-Quran, kedermawanan Rasulullah lebih dari angin yang berhembus. Nabi telah merelakan dirinya dijalan Allah, kakainya patah, wajahnya terluka hingga mengucurkan darah, dan pengorbanan jiwa raga adalah bentuk kedermawanan yang paling tinggi. Sifat dermawan Rasul ini memiliki tujuan, yaitu melembutkan hati manusia agar mereka mau menerima islam.
   



BAB III
KESIMPULAN

          Muraqabah adalah keadaan seorang hamba yang senantiasa mengetahui dan meyakini pengawasan Allah terhadap hadir dan batinnya. Uapaya untuk melanggengkan pengetahuan dan keyakinan inilah yang disebut muraqabah. Muraqabah adalah buah pengetahuannya bahwa Allah mengawasinya, melihatnya dan mendengarnya, dan mendengar semua ucapannya.Disini Nabi mengajarakan kepada kita bahwa seorang hamba mestilah bermuraqabah kepada Allah dalam diam, saat bergerak, ketika berbicara, dan kala bertindak, kapanpun dan dimanapun.
          Nabi tetap memerintahkan kita untuk menunaikan amanah meskipun orang-orang yang ada di sekitar kita tidak ada yang menunaikan amanah lagi. Beliau bersabda, “Tunaikan amanah kepada orang yang memberi amanah dan jangan kamu khianati orang yang mengkhianatimu!”
          Tawadhu adalah akhlak mulia yang dimiliki oleh seseorang yang beriman. Dengan akhlak ini seorang yang beriman akan memperoleh cinta Rabb alam semesta. Tawadhu akan mendekatkan kita kepada Allah sekaligus kepada sesama manusia.
          Malu adalah salah satu akhlak teragung yang seyogianya setiap muslim menghiasi diri dengannya. Rasulullah bersabda,
“sesungguhny setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak islam adalah malu.”



DAFTAR PUSTAKA

Al-Mishri, Mahmud. 2007. Manajemen Akhlak Salaf. Surakarta: Pustaka Arafah.
Abdul Muhsin bin Hamd Al Abbad Albadr. 2005. Meneladani Pribadi Rasulullah. Surakarta: Pustaka Barokah.
Hawwa, Said. 2003. Ar-Rasul. Jakarta: Gema Insani Press.

Sabtu, 12 November 2011


KAUM ABANGAN

Mayoritas penduduk indonesia adalah penganut islam “abangan”, artinya mereka tidak secara murni dan konsekuen melaksanakan ajaran islam. Bukti paling jelas adalah dukungan mereka pada sekulerisme dan demokrasi serta penolakan penerapan syariat islam secara menyeluruh di indonesia. Salah satu faktanya yaitu sejak pemilu 1955 sampai pemilu 2004 mayoritas rakyat indonesia selalu memilih partai-partai sekuler, dan partai-partai islam selalu memperoleh suara kurang dari 45%. Dan memilih partai sekuler artinya adalah menolak indonesia dijadikan negara ‘islami’ serta menolak penerapan hukum-hukum islam di indonesia. Padahal berhukum dengan hukum islam adalah wajib bagi setiap muslim.
Bahkan nampaknya mayoritas umat islam di dunia juga abangan dan pendukung sekulerisme, buktinya partai-partai islam di berbagai negara islam juga selalu kalah dalam pemilu. Di Turki partai “islam” hanya memperoleh sekitar 46% suara (meski saat dikonversi kedalam kursi parlemen menjadi sekitar 60% kursi karena uniknya sistem demokrasi di sana), di Pakistan, Bangladesh, dan Malaysia juga partai-partai islam selalu kalah. Realita ini bisa ditafsirkan bahwa mayoritas umat islam di dunia menolak penerapan hukum islam secara total (kaffah).
Orang yang menolak Indonesia dijadikan negara islam hanya ada 3 kemungkinan, kemungkinan pertama karena dia bodoh (jahil) sehingga tidak tahu bahwa berhukum dengan hukum islam itu wajib, dan menjalankan syariat islam dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara adalah wajib. Kemungkinan kedua adalah karena dia kafir, jadi dia menolak syariat islam dan menganggap hukum buatan manusia lebih baik dari hukum islam, dia menganggap tidak wajib berhukum dengan al Quran& hadits, dan ini adalah kekafiran. Kemungkinan ketiga yaitu dia menolak penerapan hukum islam karena hawa nafsunya, sementara hatinya mengakui bahwa sebenarnya manusia wajib berhukum dengan hukum islam.
Bahaya Sekularisme Terhadap Islam dan Umat Islam
Sekularisme yang diusung oleh para penjajah kolonialis Barat kedunia Islam telah menimbulkan bahaya serius bagi Islam dan kaum muslimin. Mereka mencabut hukum-hukum Islam dalam bidang politik, pemerintahan dan ekonomi, lalu mereka ganti dengan hukum-hukum Barat sekuler. Mereka mengintroduksikan hukum sipil perkawinan untuk membuka jalan bagi proses pemurtadan kaum muslimin melalui cara perkawinan. Mereka membiarkan hukum-hukum Islam dalam peribadatan sebagai strategi memasung kehidupan keislaman kaum muslimin sehingga terbatas dalam masalah-masalah ritual.
Setiap upaya mengembalikan Islam ke arena kehidupan kenegeraan dicegat oleh kolonialis dan para kader pelanjut mereka. Kasus perdebatan panjang pada saat menjelang kemerdekaan Indonesia yang diakhiri dengan kompromi pelaksanaan syari’at Islam secara terbatas (Piagam Jakarta) menunjukkan betapa kaum sekuler yang merupakan kader-kader kolonialis penjajah menentang Islam. Bahkan mereka menelikung kaum muslimin dengan menghapuskan kalimat “dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluknya” dari Pembukaan UUD 1945. sumber: buletin al islam hizbut Tahrir, dll. http://hizbut-tahrir.or.id/
Abangan
 Abangan adalah sebutan untuk golongan penduduk Jawa Muslim yang mempraktikkan Islam dalam versi yang lebih sinkretis bila dibandingkan dengan golongan santri yang lebih ortodoks. Istilah ini, yang berasal dari kata bahasa Jawa yang berarti merah, pertama kali digunakakan oleh Clifford Geertz, namun saat ini maknanya telah bergeser. Abangan dianggap lebih cenderung mengikuti sistem kepercayaan lokal yang disebut adat daripada hukum Islam murni (syariah). Dalam sistem kepercayaan tersebut terdapat tradisi-tradisi Hindu, Buddha, dan animisme. Namun beberapa sarjana berpendapat bahwa apa yang secara klasik dianggap bentuk varian Islam di Indonesia, seringkali merupakan bagian dari agama itu sendiri di negara lain. (Geertz, Clifford, The Religion of Java, University Of Chicago Press 1976 ) http://id.wikipedia.org/wiki/Abangan
Dari tulisan yang didukung dengan pandangan Clifford Geerzt ini dinyatakan bahwa Islam Abangan juga termasuk Islam, dan pemeluknya mungkin dalam KTP  nya juga tertulis sebagai Muslim. Dari berbagai info tidak  tertulis dan pengamatan sendiri dapat diasumsikan  jumlahnya tetap saja puluhan juta. Dan punya potensial  berkembang cepat karena kemajuan jaman, yang tidak
ada siapapun tidak akan sanggup membendungnya.
Sesuai dengan jaman terkini karena penganut Islam Abangan, juga penganut KEJAWEN, bersikap sangat  toleran pada faith, agama atau kepercayaan lain, sikap  ini dapat meredam kefanatikan dan radikalisme dan  mudah mengembangkan kebersamaan dalam lingkup  pluralitas, jadi cocok sekali dengan pluralisme yang eksis  di Indonesia sebagai karunia Tuhan.

Terasa karena syahwat dahsyat untuk ikut lebih banyak  lagi berkuasa ada kelompok tertentu yang mulai berupaya  "me-minoritas-kan" Islam Abangan! Ini gejala atau upaya  untuk memecahbelah bangsa dan harus  ditentang demi kelanjutan NKRI yang makin maju.

Yang dipertaruhkan disini adalah eksisnya semua HAM,  hak warganegara dan hak demokratis yang sesuai dengan  kebebasan memeluk suatu faith.
Satu pertanyaan sederhana, bagaimana kita mendefinisikan umat Islam Indonesia?. Pertama, umat Islam adalah mereka yang di KTP-nya tercantum sebagai penganut Islam. Jika ini menjadi acuan pokok, maka umat Islam di Indonesia adalah mayoritas. Data statistik yang kerap disampaikan, 87 % penduduk negeri ini memeluk Islam. Termasuk dalam 87 % itu saya kira adalah orang-orang Ahmadiyah. Tapi, kalau kita sepakat mengeluarkan puluhan ribu orang Ahmadiyah dalam barisan Islam, maka jumlah umat Islam itu akan berkurang.
Kedua, umat Islam adalah mereka yang menjalankan ritual peribadatan seperti shalat lima waktu, puasa sebulan penuh di bulan Ramadan, mengeluarkan zakat (fithrah dan mal), dan berhaji bagi yang mampu. Sekiranya ini menjadi standar, maka populasi umat Islam akan turun sangat drastis. Terlampau banyak orang yang di KTP-nya disebut Islam, tapi dalam aktifitas sehari-harinya tak menjalankan sejumlah ibadah yang diwajibkan dalam Islam. Mereka itu disebut Clifford Geertz sebagai Islam abangan atau yang oleh Gus Dur dan Cak Nur disebut Islam nominal. Secara politik, muslim abangan ini tak selalu punya ikatan psikologis-ideologis dengan partai-partai Islam seperti PKS, PPP bahkan juga PKB dan PAN. Sebagian dari mereka kadang merasa lebih nyaman berafiliasi dengan partai-partai sekuler-nasionalis seperti PDI Perjuangan.
Ketiga, umat Islam adalah mereka yang bukan hanya menjalankan ritual Islam, melainkan juga mengerti dasar-dasar ajaran Islam. Mereka tahu dogma, pemikiran, dan sejarah peradaban Islam. Kelompok ketiga ini lazim disebut sebagai Islam santri. Mereka biasanya alumni sebuah pesantren dan juga Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) seperti IAIN dan STAIN. Secara keorganisasian, mereka tergabung dalam organisasi keagamaan Islam seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Nahdlatul Wathan, dan Al-Washliyah.  Dengan takrif ini, maka jumlah umat Islam di Indonesia terus menyusut hingga yang tersisa sekitar puluhan juta orang.
Keempat, umat Islam adalah mereka yang bukan hanya menjalankan ritual Islam, mengerti dasar-dasar Islam, melainkan juga memperjuangkaan tegaknya negara Islam, khilafah islamiyah, dan formalisasi syariat Islam. Berbeda dengan NU dan Muhammadiyah yang menerima Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar dalam berbangsa dan bernegara, kelompok terakhir ini hendak menjadikan al-Qur’an sebagai haluan negara. Konsisten dengan pengertian ini, maka yang disebut sebagai umat Islam di Indonesia tak kurang dari lima juta orang. Secara keorganisasian, mereka itu bernaung di bawah organisasi Islam seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), dan beberapa ormas Islam kecil lainnya.
Penjelasan-penjelasan ini menunjukkan betapa tak mudahnya seseorang mengatas-namakan umat Islam Indonesia, seperti tak mudahnya mendefiniskan umat Islam Indonesia. Dengan demikian, kini jelas bahwa sekiranya ada tokoh Islam yang suka mengatas-namakan umat Islam, maka dia hakekatnya tak pernah bisa mewakili umat Islam Indonesia yang beraneka ragam itu. Mandat untuk mewakili seluruh kepentingan umat Islam Indonesia pun tak pernah dikantongi oleh yang bersangkutan. Sang tokoh akan lebih pas menyebut mewakili dirinya sendiri atau kelompok kecilnya yang terbatas. http://islamlib.com/id/artikel/pengertian-umat-islam-indonesia/