MAKALAH
KARAKTER RASULULLAH SEBAGAI DA’I
DISUSUN OLEH:
M. Abdul Kohar (26.10.1.2.029)
FAKULTAS USHULUDIN DAN DAKWAH
BIMBINGAN KONSELING ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
SURAKARTA
2012
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Tiada daya dan kekuatan
selain dari-Nya. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada
RasulullahMuhammadbeserta keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikutinya
hingga akhir zaman.
Banyak orang memeluk
islam karena terpesona dengan akhlak seorang muslim. Sebut saja suraqah, pemuda
quraisy yang begitu bersemangat membunuh nabi. Ia masuk islam, setelah
dimaafkan nabi, padahal waktu itu nabi berada diatas angin untuk ganti
membunuhnya.
Demikian
pula dengan penduduk himsha yang semula kristen berbondong-bondong masuk islam,
setelah mengetahui kejujuran kaum muslimin. Penguasa muslim saat itu,
mengembalikan pajak yang ditarik, karena mereka akan meninggalkan kota tersebut,
sehingga tak lagi mampumemberikan perlindugan.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimanakah Karakter Rasulullah sebagai seorang da’i?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Karakter atau Akhlak Rasul Sebagai Seorang Da’i
1.
Muraqabah
Muraqabah adalah
keadaan seorang hamba yang senantiasa mengetahui dan meyakini pengawasan Allah
terhadap hadir dan batinnya. Uapaya untuk melanggengkan pengetahuan dan
keyakinan inilah yang disebut muraqabah. Muraqabah adalah buah pengetahuannya
bahwa Allah mengawasinya, melihatnya dan mendengarnya, dan mendengar semua
ucapannya.
Muhammad mengajarkan cara bermuraqabah, beliau bersabda:
Artinya:
Bertaqwalah kepada Allah bagaimanapun keadaanmu! Ikutilah perbuatan
buruk dengan perbuatan baik (yang dapat)menghapusnya! Bergaulah dengan orang
lain dengan akhlak yang terpuji!(H.R
Ahmad dan At-Tirmidzi)
Beliau juga bersabda:
Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu! Jagalah Allah! Niscaya kamu
dapati Dia dihadapanmu.(
H.R Imam Ahamd dan Tirmidzi)
Disini Nabi mengajarakan
kepada kita bahwa seorang hamba mestilah bermuraqabah kepada Allah dalam diam,
saat bergerak, ketika berbicara, dan kala bertindak, kapanpun dan dimanapun.
Sebab jamak adanya
bahwa seorang hamba terkadang berbuat salah, terjerumus dalam jurang
kemaksiatan. Karena itulah Rasul melanjutkan pelajaran dengan sabda beliau, “ikutilah
perbuatan buruk dengan perbuatan baik (yang dapat) menghapusnya!” ini yang
berkaitan dengan hak Allah. Sedang yang berkaitan dengan hak sesama, beliau
telah bersabda, “Bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang terpuji!”
pelajaran singkat ini memuat hak Allah dan hak sesama manusia.
Sungguh muraqabah
kepada Allah dapat menghidupkan hati yang mati dan membangunkan jiwa yang
terlelap. Ia juga menjadikan seseorang memiliki sesuatu yang unik, jarang
sekali dijumpai pada orang lain yang tidak bermuraqabah. seorang yang
bermuraqabah hanya melangkahkan dan menapakkan kakinya setslah terlebih dahulu
bertanya, apakah amalan yang hendak dikerjakan diridhoi oleh Allah atau tidak?
kita akan mendapati semua diam dan geraknya hanya karena Allah.
Apa bila kita bermuraqabah kepada Allah, dapat dipastikan seluruh
umat akan hidup dengan aman dari segala bentuk kejahatan.
Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. (Al-A’raf[7]:96)
2.
Amanah
Rasul kita Muhammad sebelum diangkat
sebagai rassul, beliau telah dikenal sebagai seorang yang shadiq (jujur) dan
amin (memegang amanah, terpercaya) di tengah-tengah kaumnya. Sebenarnya pada
diri rasul terdapat semua sifat-sifat yang baik. Karena dua sifat jujur dan
amanah adalah sifat yang paling agung, maka beliau digelari dengan ash-shadiq
al-amin.
Nabi takpernah lelah menganjurkan umat
untuk selalu beramanah. Beliau berjanji membawa naik ruh mereka ke surga
Ar-Rahman kelak. Beliau bersabda: “jaminkan untukku enam perkala dari
kalian, niscaya aku jaminkan surga untuk kalian , -diantara keenam perkara itu
adalah-hendaklah kamu menunaikan amanah jika kamu mendapatkannya.”(H.R Imam
Ahman dan Al- Hakim)
Nabi tetap memerintahkan kita untuk
menunaikan amanahmeskipun orang-orang yang ada di sekitar kita tidak ada yang
menunaikan amanah lagi. Beliau bersabda, “Tunaikan amanah kepada orang yang
memberi amanah dan jangan kamu khianati orang yang mengkhianatimu!” (H.R
Abu Dawud dan Tirmidzi)
Beliau juga memperingatkan kita jangan
sampai menyia-nyiakan amanah. Beliau menjadikan pengkianatan amanah sebagai
salah satu tanda munafik. Beliau sebagai mana diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari
dan Imam Muslim bersabda:
tanda seorang
munafik itu ada tiga: jika berbicara dia berbohong, jika ia berjanji
mengngingkari, dan jika dipercaya dia berkianat.
Beliau juga
bersabda:
Tidak ada iman
bagi yang tidak beramanah, dan tidak beragama bagi yang tidak (menepati) janjinya. (H.R Imam Ahmad dan Ibnu Hibban)
3.
Tawadhu
Nabi muhammad telah menganjurkan
umatnya untuk tawadhu demi tersebarnya spirit cinta, saling kasih, dan rasa
sayang diantara umat islam. Beliau bersabda:
Sesungguhnya
Allah mewahyukan kepadaku, hendaklah kalian bertawadhu, sehingga seseorang
tidak merasa bangga atas orng lain dan tidak berbuat lalim kepada orang lain” (H.R Muslim)
Seruan untuk bertawadhu. Seruan yang
datang dari atas tujuh langit agar kita membawa hati dan ruh kita untuk hidup
berakhlak yang agung.
Adapun
hamba-hamba Ar-Rahman (yang maha pengasih) itu adalah orang-orang yang berjalan
di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan
kata-kata yang hina), mereka mengucapkan ‘salam!’ (Al-Furqan:63)
Tawadhu adalah akhlak mulia yang
dimiliki oleh seseorang yang beriman. Dengan akhlak ini seorang yang beriman
akan memperoleh cinta Rabb alam semesta. Tawadhu akan mendekatkan kita kepada
Allah sekaligus kepada sesama manusia.
4.
Malu
Malu adalah salah satu akhlak teragung
yang seyogianya setiap muslim menghiasi diri dengannya. Rasulullah bersabda,
“sesungguhnya
setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak islam adalah malu.”( H.R Ibnu Majah)
Rasulullah menjelaskan bahwa kebanyakan
yang menjadi keistimewaan pemeluk berbagai agama bukanlah akhlak malu.
Sedangkan kebanyakan pemeluk agama kita
keistimewaannya pada akhlak malu. Karena malu adalah penyempurna akhlak,
dan Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak. Karena islam agama yang
paling mulia, maka Allah memberi islam akhlak yang paling tinggi dan paling
mulia, yaitu malu. (Al-Haya’ khuluq Al-Islam, Syaikh Muhammad Ismail, hal. 25)
Imam Al-Bukhari dan imam muslim
meriwayatkan bahwa abu Sa’id Al-Khudri mengatakan, “Rasulullah lebih pemalu
dari pada gadis dalam pingitan. Jika beliau melihat sesuatu yang tidak beliau
sukai, kami dapat mengetahuinya dari rona wajah beliau.”
Ada banyak hadits Nabi yang berisi
anjuran bagi umat agar menghiasi diri dengan akhlak malu.
Imam Muslim meriwayatkan bahwa
Rasulullah bersabda:
“Semua malu itu
baik”.
Rasulullah juga
bersabda:
Tidaklah
(perkataan dan perbuatan) keji itu menyertai sesuatu sama sekali kecuali
membuatnya buruk, dan tidaklah malu itu menyertai sesuatu sama sekali kecuali
membuatnya indah.( H.R Imam Ahan
Amad dan At-Tirmidzi)
Rasulullah juga
bersabda:
“Malu itu
termasuk iman; iman tempatnya di surga. (perkataan atau perbuatan) keji itu
termasuk kebengisan; kebengisan tempatnya di neraka.” ( H.R At-Tirmidzi dan Al-Hakim)
5.
Kedermawanan Dan Pengorbanan
Sifat dermawan yang ada pada beliau telah sampai pada taraf yang
paling sempurna diantara manusia, Allah telah menjadikan rasa dermawan Nabi
berlipat ganda di waktu dan saat tertentu. Ibnu Abbas berkata: Rassulullah
adalah orang yang paling dermawan dan kedermawanannya bertambah pada bulan
ramadhan ketika jibril mendatanginya pada setiap malam-malam ramadhan dan mengajarkannya Al-Quran, kedermawanan
Rasulullah lebih dari angin yang berhembus. Nabi telah merelakan dirinya
dijalan Allah, kakainya patah, wajahnya terluka hingga mengucurkan darah, dan
pengorbanan jiwa raga adalah bentuk kedermawanan yang paling tinggi. Sifat
dermawan Rasul ini memiliki tujuan, yaitu melembutkan hati manusia agar mereka
mau menerima islam.
BAB III
KESIMPULAN
Muraqabah adalah
keadaan seorang hamba yang senantiasa mengetahui dan meyakini pengawasan Allah
terhadap hadir dan batinnya. Uapaya untuk melanggengkan pengetahuan dan
keyakinan inilah yang disebut muraqabah. Muraqabah adalah buah pengetahuannya
bahwa Allah mengawasinya, melihatnya dan mendengarnya, dan mendengar semua
ucapannya.Disini Nabi mengajarakan kepada kita bahwa seorang hamba mestilah
bermuraqabah kepada Allah dalam diam, saat bergerak, ketika berbicara, dan kala
bertindak, kapanpun dan dimanapun.
Nabi tetap
memerintahkan kita untuk menunaikan amanah meskipun orang-orang yang ada di
sekitar kita tidak ada yang menunaikan amanah lagi. Beliau bersabda, “Tunaikan
amanah kepada orang yang memberi amanah dan jangan kamu khianati orang yang
mengkhianatimu!”
Tawadhu adalah akhlak mulia yang
dimiliki oleh seseorang yang beriman. Dengan akhlak ini seorang yang beriman
akan memperoleh cinta Rabb alam semesta. Tawadhu akan mendekatkan kita kepada
Allah sekaligus kepada sesama manusia.
Malu adalah salah satu akhlak teragung
yang seyogianya setiap muslim menghiasi diri dengannya. Rasulullah bersabda,
“sesungguhny setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak islam adalah
malu.”
Al-Mishri,
Mahmud. 2007. Manajemen Akhlak Salaf. Surakarta: Pustaka Arafah.
Abdul Muhsin
bin Hamd Al Abbad Albadr. 2005. Meneladani Pribadi Rasulullah. Surakarta:
Pustaka Barokah.
Hawwa, Said.
2003. Ar-Rasul. Jakarta: Gema Insani Press.